Kau hadir seolah-olah penyemangat hariku. Kau adalah alasan untukku
semangat berangkat ke sekolah. Meski ketika di depanmu aku selalu salah
tingkah. Ah sudahlah, hingga sejuta kertas pun tak kan mampu menulis cerita
tentangnya. Semunafik inikah aku? Jelas saja, aku takut. Aku takut dicap
sebagai wanita murahan. Mengucap kata cinta dahulu sesungguhnya tak elit kata
mereka. Tapi mereka tak tahu seberapa rumitnya menjaga sesuatu yang berurusan
soal hati.
Berteman dengannya saja bagiku itu sudah luar biasa. Apalagi menjadi sesorang
yang spesial baginya. 3 tahun lamanya aku hanya bisa memendamnya. “Mungkinkah
waktuku selama ini terbuang sia-sia? Apakah cinta memang tidak harus memiliki?
Apakah benar bahwa aku cewek yang bodoh? Bodoh karena hanya melihat pada satu
arah, pada cinta yang tak akan pernah bisa terbalas” pertanyaan-pertanyaan itu
pun selalu membayangiku setiap waktu. “Bisa gila aku kalau gini” batinku dalam
hati.
Menjadi pengagum rahasia mungkin bukan hal yang menyenangkan. Apalagi
kalau kenyataannya aku tahu bahwa dia sama sekali tidak peduli dengan
perasaanku. Ingin rasanya aku bisa melupakannya, menghapusnya dalam memori
fikiranku. Tapi percuma, yang ada malah sebaliknya. Aku ingin perasaan ini
berakhir. Aku lelah Tuhan.
Jujur aku takut kalau dia mengetahui perasaan ini sesungguhnya, aku
takut dia bakal benci apalagi menjauh. Katakanlah aku pengecut atau umpatan
lainnya. Biarkanlah, mungkin dengan ini aku bahagia meski terkadang
menyakitkan. Aku tak berharap lebih darinya. Mustahil memang jika aku berharap
bahwa dia punya rasa yang sama.
****
Oh ya kenalin aku chella. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana.
Tianggal di sebuah desa yang permai yaitu Desa Keboromo. Maklum karena disana
jarang sekali ada anak perempuan jadi kebanyakan teman-temanku laki-laki.
Bagiku berteman dengan siapa saja itu tidak penting, baik laki-laki atau
perempuan, baik kaya maupun miskin aku tak pernah membedakannya. Tak hanya itu
aku juga terlahir sebagai anak tunggal dan kebanyakan saudara-saudaraku adalah
laki-laki. Makanya tak jarang sifatku sedikit seperti cowok.
Letih rasanya setelah seharian mengikuti pelajaran. Ingin sekali aku
merebahkan tubuhku di atas kasur itu yang empuk. Namun mau bagaimana lagi tugas
telah menanti. Maklum saja kini aku sudah duduk di bangku kelas IX. Yang
artinya sebentar lagi aku akan mengikuti ujian dan meninggalkan SMP tercinta
ini.
“Andaikan saja aku punya Ibu Peri pasti aku tak usah repot-repot
mengerjakan PR sebanyak ini” ucapku dengan penuh khayalan. Detik demi detik jam
dinding menunjukan pukul sebelas malam, rasa kantukku pun tidak bisa
dikalahkan. Tanpa sadar aku ketiduran di meja belajar.
Keesokan harinya badanku demam tinggi. Ibuku yang sedang cemas melarang
ku untuk tidak masuk sekolah terlebih dahulu. “Klunting” pertanda ada BBM
masuk. Aku pun langsung membuka BBM itu dan iyups seketika rasanya demam ini
langsung turun ketika aku mendapat BBM darinya “GWS Ya Chel”. Meski terlihat
biasa namun bagiku sungguh luar biasa.
****
Pagi ini aku memutuskan untuk kembali berangkat sekolah. Sepanjang
pelajaran di kelas aku aku tidak bisa konsen dengan apa yang guruku terangkan.
Entah mengapa tak ada konsentrasi sama sekali yang ada hanya dia yang terbayang
di pikiranku, aku pun tersenyum-senyum mengingatnya.
Jam ke terakhir yaitu Fisika. Tak seperti biasanya hari ini fisika jam
kosong. Semuanya sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Rasanya tubuhku
belum terlalu sehat, aku pun memutuskan untuk duduk manis melamun di meja saja.
Aku memikirkan bagaimana agar aku bisa menutupi perasaan ini dengan rapi, tanpa
ada yang tahu hanya beberapa teman dekatku. Tapi tak jarang ada beberapa temanku
yang merasa janggal antara aku dengan Kaka. Lebih parahnya lagi ada yang
mengira jika Kaka punya rasa denganku sama. Meski begitu aku masih merasa tak
yakin. Andaikan dia punya rasa yang sama mungkin itu kado terindah dari Tuhan.
Bahkan aku pernah berfikir lebih menyenangkan menjadi aku yang dulu
yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Aku pun merasa sepertinya dia
memiliki perasaan yang sama seperti ku. Tapi selalu aku tepis pikiran seperti
itu karena itu tidak mungkin.
“Menurutku sebenarnya dia punya
rasa sepertimu mi” tiba-tiba aku terkejut mendengar suara itu. Iyups suara itu
sudah tak asing lagi bagiku, dia salah satu sahabatku panggil saja Vee. Sejak
kelas 7 dia memanggilku dengan sebutan Mami. Mungkin dia salah satu orang yang
sering sekali mendengar curhat dariku. “Tak mungkin Vee konyol rasanya jika dia
punya rasa yang sama sepertiku” jawabku dengan lemas. “Di dunia ini tak ada
yang tak mungkin mi, aku yakin sekali dia punya rasa yang sama sepertimu. Dari
gerak geriknya saja sudah kelihatan. Ingatlah orang suka tak bisa ditutupi”
jawab Vee sambil menyakinkanku.
Menunggu itu menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi jika sama-sama
menunggu tetapi tidak saling tahu. Apa aku mencintai orang yang salah? Orang
yang hadir seumpama hanya dalam angan maya? Mungkin, kau diam. Tapi aku telah
terbiasa denganmu, terbiasa dengan lelucon klasikmu, terbiasa dengan gayamu
menghiburku saat dunia memojokkanku dengan sindirian kecil untuk menusuk
mereka. Ya aku tak seharusnya mengharapkan kita menjadi nyata. Aku hanya ingin
kita saling mengisi dan tak pernah berubah, takkan pernah.
0 komentar:
Posting Komentar