Blogger Tricks

Jumat, 13 Maret 2015

Cerpan Cerpun

Secret Admirer
“Huft menyebalkan” aku yang sedari tadi melamun tiba-tiba menggerutu tidak jelas. Aku tak kan pernah lupa akan tatap sorot matanya. Caranya bertingkah yang berlebihan namun tetap saja terasa istimewa. Iya Kaka namanya. Aku tak pernah mengerti mengapa sampai saat ini aku belum benar-benar berahasil menggapainya. Mungkinkah dia terlalu tinggi untukku? Apakah dia terlalu sempurna untuk kugenggam?
Kau hadir seolah-olah penyemangat hariku. Kau adalah alasan untukku semangat berangkat ke sekolah. Meski ketika di depanmu aku selalu salah tingkah. Ah sudahlah, hingga sejuta kertas pun tak kan mampu menulis cerita tentangnya. Semunafik inikah aku? Jelas saja, aku takut. Aku takut dicap sebagai wanita murahan. Mengucap kata cinta dahulu sesungguhnya tak elit kata mereka. Tapi mereka tak tahu seberapa rumitnya menjaga sesuatu yang berurusan soal hati.
Berteman dengannya saja bagiku itu sudah luar biasa. Apalagi menjadi sesorang yang spesial baginya. 3 tahun lamanya aku hanya bisa memendamnya. “Mungkinkah waktuku selama ini terbuang sia-sia? Apakah cinta memang tidak harus memiliki? Apakah benar bahwa aku cewek yang bodoh? Bodoh karena hanya melihat pada satu arah, pada cinta yang tak akan pernah bisa terbalas” pertanyaan-pertanyaan itu pun selalu membayangiku setiap waktu. “Bisa gila aku kalau gini” batinku dalam hati.
Menjadi pengagum rahasia mungkin bukan hal yang menyenangkan. Apalagi kalau kenyataannya aku tahu bahwa dia sama sekali tidak peduli dengan perasaanku. Ingin rasanya aku bisa melupakannya, menghapusnya dalam memori fikiranku. Tapi percuma, yang ada malah sebaliknya. Aku ingin perasaan ini berakhir. Aku lelah Tuhan.
Jujur aku takut kalau dia mengetahui perasaan ini sesungguhnya, aku takut dia bakal benci apalagi menjauh. Katakanlah aku pengecut atau umpatan lainnya. Biarkanlah, mungkin dengan ini aku bahagia meski terkadang menyakitkan. Aku tak berharap lebih darinya. Mustahil memang jika aku berharap bahwa dia  punya rasa yang sama.
****
Oh ya kenalin aku chella. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Tianggal di sebuah desa yang permai yaitu Desa Keboromo. Maklum karena disana jarang sekali ada anak perempuan jadi kebanyakan teman-temanku laki-laki. Bagiku berteman dengan siapa saja itu tidak penting, baik laki-laki atau perempuan, baik kaya maupun miskin aku tak pernah membedakannya. Tak hanya itu aku juga terlahir sebagai anak tunggal dan kebanyakan saudara-saudaraku adalah laki-laki. Makanya tak jarang sifatku sedikit seperti cowok.
Letih rasanya setelah seharian mengikuti pelajaran. Ingin sekali aku merebahkan tubuhku di atas kasur itu yang empuk. Namun mau bagaimana lagi tugas telah menanti. Maklum saja kini aku sudah duduk di bangku kelas IX. Yang artinya sebentar lagi aku akan mengikuti ujian dan meninggalkan SMP tercinta ini.
“Andaikan saja aku punya Ibu Peri pasti aku tak usah repot-repot mengerjakan PR sebanyak ini” ucapku dengan penuh khayalan. Detik demi detik jam dinding menunjukan pukul sebelas malam, rasa kantukku pun tidak bisa dikalahkan. Tanpa sadar aku ketiduran di meja belajar.
Keesokan harinya badanku demam tinggi. Ibuku yang sedang cemas melarang ku untuk tidak masuk sekolah terlebih dahulu. “Klunting” pertanda ada BBM masuk. Aku pun langsung membuka BBM itu dan iyups seketika rasanya demam ini langsung turun ketika aku mendapat BBM darinya “GWS Ya Chel”. Meski terlihat biasa namun bagiku sungguh luar biasa.
****
Pagi ini aku memutuskan untuk kembali berangkat sekolah. Sepanjang pelajaran di kelas aku aku tidak bisa konsen dengan apa yang guruku terangkan. Entah mengapa tak ada konsentrasi sama sekali yang ada hanya dia yang terbayang di pikiranku, aku pun tersenyum-senyum mengingatnya.
Jam ke terakhir yaitu Fisika. Tak seperti biasanya hari ini fisika jam kosong. Semuanya sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Rasanya tubuhku belum terlalu sehat, aku pun memutuskan untuk duduk manis melamun di meja saja. Aku memikirkan bagaimana agar aku bisa menutupi perasaan ini dengan rapi, tanpa ada yang tahu hanya beberapa teman dekatku. Tapi tak jarang ada beberapa temanku yang merasa janggal antara aku dengan Kaka. Lebih parahnya lagi ada yang mengira jika Kaka punya rasa denganku sama. Meski begitu aku masih merasa tak yakin. Andaikan dia punya rasa yang sama mungkin itu kado terindah dari Tuhan.
Bahkan aku pernah berfikir lebih menyenangkan menjadi aku yang dulu yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Aku pun merasa sepertinya dia memiliki perasaan yang sama seperti ku. Tapi selalu aku tepis pikiran seperti itu karena itu tidak mungkin.
 “Menurutku sebenarnya dia punya rasa sepertimu mi” tiba-tiba aku terkejut mendengar suara itu. Iyups suara itu sudah tak asing lagi bagiku, dia salah satu sahabatku panggil saja Vee. Sejak kelas 7 dia memanggilku dengan sebutan Mami. Mungkin dia salah satu orang yang sering sekali mendengar curhat dariku. “Tak mungkin Vee konyol rasanya jika dia punya rasa yang sama sepertiku” jawabku dengan lemas. “Di dunia ini tak ada yang tak mungkin mi, aku yakin sekali dia punya rasa yang sama sepertimu. Dari gerak geriknya saja sudah kelihatan. Ingatlah orang suka tak bisa ditutupi” jawab Vee sambil menyakinkanku.
Menunggu itu menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi jika sama-sama menunggu tetapi tidak saling tahu. Apa aku mencintai orang yang salah? Orang yang hadir seumpama hanya dalam angan maya? Mungkin, kau diam. Tapi aku telah terbiasa denganmu, terbiasa dengan lelucon klasikmu, terbiasa dengan gayamu menghiburku saat dunia memojokkanku dengan sindirian kecil untuk menusuk mereka. Ya aku tak seharusnya mengharapkan kita menjadi nyata. Aku hanya ingin kita saling mengisi dan tak pernah berubah, takkan pernah.

0 komentar:

Posting Komentar